Hujan tak kunjung berhenti, aku, Kawaishi, dan beberapa anak buahku masih berteduh di . dalam markas. Ruang bekas UKS menjadi markas kami, gang tingkatan E setelah gang tingkatan D kutundukkan. Sebagai ketua gang tingkatan E yang sekarang telah terorganisir, aku sudah tak asing lagi. Murid-murid sekolah setan sekarang menyebutku “Ken si Penakluk”. Setelah berhasil menaklukkan gang tingkatan D, aku bersama anak buahku menambah pasukan dengan cara menaklukkan anggota gang yang tingkatannya di atas kami. Mereka itu adalah anggota gang tingkatan C dan B yang merasa diri mereka hebat, namun sebenarnya payah.
Bila tidak dalam keadaan hujan seperti ini, biasanya aku sudah pulang ke rumah. Atau sesekali berkeliling sekolah setan bersama anak buah untuk mencari anak buah baru. Terkecuali anggota gang tingkatan A, anggota gang tingkatan C dan B memang banyak berkeliaran sepulang sekolah. Menghajar merekalah cara kami, gang tingkatan E untuk menambah anggota. Karena anggota gang tingkatan A adalah orang-orang kaya, tempat berkumpul mereka adalah bar-bar atau diskotik-diskotik.
Hujan berganti gerimis, anak buahku ramai sekali bercanda-tawa. Sedangkan aku melamun, sambil menikmati gemericik air gerimis. Aku kembali teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat aku sendiri membuntuti salah seorang anggota gang tingkatan A sepulang sekolah. Ternyata dia berkumpul bersama anggota gang tingkatan A yang lain di sebuah bar.
Sambil mengendap agar tidak ketahuan, aku berhasil mengikuti anggota gang tingkatan A itu menuju anggota gang tingkatan A lain yang menunggu di bar. Aku terus mengintainya dari kejauhan, orang tersebut bercakap-cakap dengan seseorang yang dipanggilnya “bos”. Dan tak salah lagi, orang yang diajak bicara pasti ketua gang tingkatan A. Setelah meminum segelas wine putih, aku pulang sambil mengingat dengan tajam wajah ketua gang tingkatan A. Aku tak pernah melupakan matanya sampai detik ini, mata orang yang nantinya tunduk padaku.
“Woi. Ngelamunin apa bos?”, ucap Kawaishi mengagetkan lamunanku sambil menepuk keras pundakku. “Dasar gendut, aku cuma menikmati sisa-sisa hujan.”, jawabku sekenanya. “Haha, lihat si bos berbohong, apa perlu pembohong masih dipercaya sebagai ketua gang.”, ucap si gendut mencandaiku sambil melihat ke arah anak buahku. “Heh, jaga bicaramu gendut! Aku hanya sedang berfikir, kita harus segera menguasai gang tingkatan B dan C.”, jawabku meyakinkan si gendut. “Ya ya yaa, anak-anak, saatnya diskusi dengan si bos.”, ajak si gendut pada anak-anak buahku.
Rencana penyerangan besar-besaran terhadap gang tingkatan B maupun C telah siap. Termasuk plan B, dan C-nya bila terjadi kesalahan teknis. Semua anggota gang tingkatan E dan D akan terlibat dalam penyerangan ini. Mereka aku buat kelompok-kelompok yang berisi 7 orang tiap kelompoknya. Sedangkan aku, si gendut, dan Hosikagi akan berada di belakang. Aku telah memberitahukan sebelumnya, agar anak buahku tidak salah dalam menyerang anggota gang di atas kami. Karena tujuan rencana penyerangan ini hanya gang tingkatan B dan C.
Tiap pulang sekolah, anak-anak buahku sudah siap di markas. Dan tahap selanjutnya adalah melakukan penyerangan. Anak-anak buahku sudah kuberitahu cara membedakan anggota gang tingkatan A. Penampilan mereka tidak biasa-biasa saja, karena semua anggota gang tingkatan A adalah anak orang-orang kaya. Dan ternyata, rencanaku berjalan lancar. Anggota gang kami terus bertambah banyak setelah penyerangan-penyerangan yang terlaksana.
Aku juga sedikit bangga dengan kemajuan pesat anggota gang “The Rebel Gangsters” sekarang. Gang yang kubentuk untuk menghapus sistem kasta yang telah lama terbentuk. Anggota gang tingkatan D, E, serta anggota gang tingkatan B dan C yang telah kutaklukkan adalah anggota “The Rebel Gangsters”. Dan dalam tempo singkat, hampir semua anggota gang tingkatan B dan C telah menjadi anggota “The Rebel Gangsters”.
“Aku senang dengan kerja kalian, tak lama lagi, kita akan benar-benar menjadi penguasa gang di sekolah setan ini. Dan nama “The Rebel Gangsters” akan terngiang selama-lamanya.”, Ucapku di depan anak buahku diikuti tepuk tangan dan tawa mereka. “Benar Ken, nama “The Rebel Gangsters” akan terdengar ke penjuru negeri.”, kata Kawaishi sambil memeluk pundakku dan Hosikagi. “Ayo kita pulang!”, ucapku keras-keras. Langit yang terang memayungi kepulangan kami.
To be continued. Baca chapter-chapter lainnya.
Baca Asshole SMU - Bagian 1
Baca Asshole SMU - Bagian 2
Jumat, 01 April 2011
Asshole SMU - Bagian 3
Kamis, 24 Maret 2011
Asshole SMU - Bagian 2
“Kriiing”, bel bordering tanda jam sekolah telah usai. Setelah melakukan do’a bersama yang membosankan, aku langsung menyerobot tasku dan beranjak keluar. “Gendut, ayo kita pulang.”, seruku pada si gendut Kawaishi yang masih duduk. “Kau tidak ingin tinggal dulu, tanganku sudah gatal nih dua hari nggak mukul orang.’, ucap si gendut sambil memainkan pulpennya. “Iya juga, kita juga belum benar-benar menguasai gang tingkatan D, masih banyak keledai yang harus ditaklukkan.”, kataku sambil mengamati luar ruangan sambil sedari tadi berdiri di depan pintu.
“Ken, nggak terasa ya, baru dua bulan di sekolah setan ini, kita sudah hampir menguasai gang tingkatan D, kalau begini, akan semakin berkurang tikus-tikus yang meremehkan gang kita.”, kata si gendut bersemangat. “Iya, aku juga setuju, ayo kita ke lapangan basket sekarang, pasti ada anak-anak gang D di sana.”, kataku pada si gendut yang masih duduk sendirian di dalam kelas. “Baik, ayo kita ke sana.”, seru si gendut sambil menggebrak meja dan berjalan ke arahku.
“Duk duk duk.”, suara pantulan bola basket yang kemudian menggelinding ke arahku. “Hohoho, lihat Ken, bola keledai-keledai itu ke sini. “Hei, bocah, bawa sini bolanya.”, teriak salah seorang dari dalam lapangan ke arahku. “Kalau mau ambil sini, njing!”, teriak si gendut tiba-tiba. “Kau kira aku takut, dasar monyet!”, seru orang yang tadi meneriaki benar-benar sambil mendekat. “Pok …buk, buk, pok, bruk.”, suara pukulan dan tendangan bertubi-tubi si gendut yang akhirnya menjatuhkan pengambil bola. “Heh, berani nyali aja ngapain ke sini?”, gertak si gendut diikuti pukulannya lagi.
“Heh gendut, lihat tikus-tikus di lapangan itu, mereka mungkin membiarkan salah satu temannya mati konyol di sini.”, kataku pada si gendut. “Plok plok plok.. Lumayan juga dua bocah tengik yang bermimpi menjadi jagoan dari gang E ini.”, kata salah seorang dari dalam lapangan sambil bertepuk tangan. “Kau tahu siapa dia Ndut? Sepertinya dia sudah mengenali kita, atau mungkin kita sudah cukup terkenal di sekolah setan ini ya? Hahaha.”, celotehku pada si gendut yang berdiri di samping pengambil bola yang barusan dihajarnya. “Dia Sasuke, ketua gang tingkatan D, kukira anak buahnya sudah lapor padanya setelah apa yang kita lakukan pada banyak anak buahnya.”, kata si gendut.
“Aku menantang kalian, kemari dan tunjukkan kejantanan kalian.”, tantang salah seorang murid sekolah setan yang ternyata ketua gang tingkatan D. “Aku layani tantanganmu..!!!”, teriakku. “Ayo gendut, kita tunjukkan kehebatan kita.”, seruku sambil melemparkan bola ke dalam lapangan dan berjalan beriringan bersama si gendut.
“Hmm, begini peraturannya, kalau kalian bisa mengalahkan beberapa anak buah yang kupilih, salah seorang dari kalian akan duel denganku. Dan kalau aku kalah, maka kami gang tingkatan D akan mengakui kehebatan gang tingkatan E. Kalian sanggup bocah?”, kata ketua gang tingkatan D sambil menatapku tajam. “Kau kira kamu takut ya? Haha..”, kataku bersemangat. “Kyoto, Yamamoto, Makiyo, Matsumoto, Kamamaru, kemari kalian dan habisi bocah-bocah pemimpi ini.”, kata ketua gang tingkatan D sambil berbalik meninggalkan aku dan si gendut. Lima anak buah gang tingkatan D sudah berhadapan dengan kami berdua. “Ayo Ken, kita habisi mereka!”, seru si gendut sambil bersiap.
Benar saja, aku dan si gendut mulai bertarung dengan lima anggota gang tingkatan D. Dua lawan lima sekaligus, rasanya terdengar konyol. Tapi dengan segenap keberanian kami berdua, kami melawan pertarungan keroyok mereka. Motivasiku menguasai gang-gang di sekolah setan ini semakin menguatkanku.
“Bog..plak..duk..debug..brak..plok..dug..dag..”, suara rentetan pukulan, tendangan, pertahanan diri dari pertarungan kami. Ternyata lumayan berat juga bertahan sekaligus menyerang lima orang sekaligus tanpa anak buah. Tapi demi impianku, aku dan si gendut sekuat tenaga melawan lima anggota gang tingkatan D itu.
Wajah babak belur lima lawan bertarung kami membuat nyali bertarungku menggila. Entah berapa pukulan serta tendangan yang sudah kubuat, sampai membuat tiga orang dari mereka mengaku kalah. Melawan dua orang lagi rasa-rasanya ringan bagi aku dan si gendut. Walaupun si gendut sudah terlihat kelelahan dan wajah yang memar-memar.
Kamipun akhirnya berhasil mengalahkan lima anak buah pilihan ketua gang D untuk melawan aku dan si gendut. Tapi aku masih belum merasa puas, salah seorang dari kami harus melawan ketua gang D untuk membuat gang tingkatan E tidak diremehkan lagi. “Bagaimana, kau sudah melihat kehebatan kami kan?”, kata si gendut sambil ngos-ngosan pada ketua gang tingkatan D. “Jangan senang dulu para bocah, siapa dari kalian yang akan berduel denganku?”, tantang ketua gang tingkatan D geram.
“Ken, kau saja yang melawannya, aku sudah lelah. Dan kau pasti akan mengalahkannya”, kata si gendut dengan entengnya. “Hmm, kau serius berkata begitu gendut?”, kataku sambil melihat si gendut yang sempoyongan. “Iya Ken, kau pasti menang, lawan dia! Nama besar gang tingkatan E ada di pundakmu! Selamat berjuang!”, ucap si gendut lalu meninggalkanku. “Baik gendut, aku sudah berjanji kita bakal menguasai gang-gang di sekolah setan ini. Aku akan mengalahkannya!”, teriakku dalam hati.
“Jadi kau ya yang melawanku, kau akan habis. Aku tak sabar lagi!”, kata ketua gang tingkatan D sambil menatapku tajam. “Ayo kita mulai sekarang! Arrrrgh…”, seruku dengan tangan mengepal. “Bug”, suara pukulan ketua gang tingkatan D tepat di dada bagian atasku. “Nyeri ini akan menjadi cambuk bagiku untuk menghabisimu”, ucapku dalam benak memotivasiku. Dan dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku melawan ketua gang tingkatan D. Aku bertarung mati-matian, nyala api di dadaku terus berkobar, bersama tiap peluh yang menetes dan nafas yang kuhembus.
Setelah melalui duel yang benar-benar melelahkan, aku menguasai pertarungan. Aku mematikan gerakannya, menguncinya saat berhasil membuatnya terjatuh. “Nafasku terengah-engah, sisa tenagaku kugunakan untuk mengunci tangan ketua gang tingkatan D itu. Kuat dan semakin kuat. “Sudah, lepaskan aku, aku tak kuat lagi. Kau memenangi duel ini. Gang tingkatan E berada di atas gang tingkatan D sekarang. Sekarang lepaskan aku.”, kata ketua gang tingkatan D memohon.
Aku melepaskan kuncianku dan mengatur nafasku. “Terima kasih, kami gang tingkatan D mengakui kehebatan gang tingkatan E sekarang.”, kata ketua gang tingkatan D sambil menepuk pundakku lalu berjalan menuju anak buahnya. “Iya Sasuke, dan aku tak akan puas sampai di sini.”, jawabku sambil menunjuk ke arahnya dan berbalik. Aku tertahan berteriak “Aku menang” pada si gendut. Karena di sampingnya berdiri anak-anak buahku.
“Ken, selamat! Tak salah kami mempercayakanmu sebagai ketua.”, kata salah seorang anak buahku. “Hah, begini kalau memiliki gang yang sama sekali tak terorganisir. Membiarkan ketua dan tangan kanannya berjuang sendirian.”, pikirku dalam hati. “Ayo kita pulang.”, kataku sambil diikuti pelukan dari anak-anak buahku, termasuk tangan kananku, si gendut Kawaishi.
Sambil berjalan pulang, aku terus berjanji pada diriku. “Aku pasti bisa menguasai sekolah setan ini, aku pasti bisa. Dan aku akan mengorganisir gang tingkatan E, dan tunggu saja orang yang menjadi dendam bawaan si gendut, gang tingkatan E akan memperlihatkan tajinya padamu, tunggu saja!”, seruku dalam hati.
To be continued. Baca chapter-chapter lainnya.
Baca Asshole SMU - Bagian 1
Baca Asshole SMU - Bagian 3
Jumat, 04 Maret 2011
Asshole SMU
Ini hari pertamaku masuk sekolah lanjutan baruku, hah ,sebenarnya bagiku sekolah itu menyiksaku, pasti sulit rasanya beradaptasi pada lingkungan yang berbeda dari karakterku yang selalu ingin hidup bebas tanpa ada aturan. Hidupku selalu penuh dengan kekerasan, aku bertahan hidup sendiri di dunia ini berkat perjuangan kerasku. Keluargaku yang berantakan yang membuatku demikian. Kedua orang tuaku kini memilih jalan hidupnya masing-masing. Mereka lebih mementingkan egonya dibanding dengan darah daging semata wayang mereka. Harapanku pergi dari mereka adalah agar dapat membuatku merasa lebih tenang. “Lepaskan semua beban pikiran, hidup adalah pilihan, waktu tak dapat kuputar, masa lalu tak bisa ku ubahh, hanya waktu yang terus berjalan hingga kedamaian bisa terwujudkan…”, kata-kata itulah yang menjadi motivasi hidupku.
“Woi murid baru, ngapain lo ngelamun di situ? Mau dihukum lo? Jangan cari masalah, kalo lo mau masuk SMA ini, lo harus nurutin apa yang kakak kelas lo bilang?”, salah seorang kakak kelas panitia OSPEK membentakku dan memecahkan lamunanku. “Anjing, gue tahu kalo ini OSPEK, tapi biasa aja woi, nggak ada alasan buat gue takut ma orang tua kayak lo, kalo loe nggak mau hidung lo moncrot, jangan cari masalah sama gue” , ucapan kasarku keluar begitu saja karena memang sudah terbiasa aku melakukannya. Murid-murid yang sedang berada di lokasi OSPEK lainnya terheran melihatku. Kakak kelas yang merasa kupermalukan tiba-tiba menuju ke arahku dan memukul muka daerah pipiku. Lalu dia berjalan menjauh, tak salah lagi, sambil menggenggam batu. “Anjiing..!!!”, ucapku. ”Itu balasan buat lo yang coba-coba berani sama gue, lo nggak tahu apa? Gue ketua gang tingkatan D di sekolah ini. Catat itu bocah!”, orang itu berceloteh lagi dari kejauhan. Lalu dia tertawa-tawa dikuuti teman-temannya.
Mataku kupicingkan, aku emosi, dari bibirku terasa ada yang mengalir, dan setelah kuusap dengan tanganku, ada darah disana. Emosiku semakin memuncak, selain melihat darah dari bibirku, adalah saat melihat tawa senang kakak kelas yang berani memukulku tadi. Aku berdiri, jari telunjukku kuacungkan di mukanya. Mimik wajahnya gusar. Aku berjalan gontai ke arahnya.
Aku setengah berlari ke arahnya, tapi tiba-tiba lengan yang sangat kuat menghadang gerakanku. Aku sontak tak bisa bergerak. Dua lengan semakin kuat menekan dadaku. Sesak. Lebih sesak dari asap rokok impor saat aku coba-coba menghisapnya kelas 2 SMP dulu.
Aku masih tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman seseorang entah siapa itu. “Bro, gue suka keberanian lo, tapi kalau lo mukul dia sekarang, masalah bakal runyam?”,tiba – tiba orang yang mencengkeramku berbisik. “Apa maksud lo, lepasin gue kalau lo masih mau hidup.”, ancamku pada seseorang di belakangku, ”Santai bro, oke gue lepasin, asal kamu tahu gue ada di pihakmu.”, orang yang mencengkeramku berbicara lagi.
Setelah dua lengan yang menahan amarahku itu terlepas, dengan gesit aku segera berbalik dan segera ku pukul dagu orang di belakangku dengan sangat keras. Pukulanku berhasil membuatnya tergulai mencium tanah. ”Pukulan yang bagus, tapi sayang sekali, bagiku pukulan ini seperti cubitan anak SD.”, ejeknya segera sambil terbangun. Mendengar ucapannya, amarahku semakin menggila. Namun sebelum aku mengarahkan genggaman tanganku ke arah wajahnya, tangan kirinya menangkis gerakanku. Dan tangan lainnya memukul dadaku, rasanya tepat di ulu hati. Dengan satu pejaman mata, aku tersungkur, dan dadaku nyeri. Dia yang masih berdiri tegak menghampiri dan berkata “Gue rasa kita bisa membentuk satu kekuatan. Gue salut keberanian lo.”, ucap orang yang menghempaskanku itu.
Aku masih merasa sakit, mataku mulai redup, dan akhirnya terpejam, aku tak ingat apa yang sebenarnya terjadi. Saat aku terbangun, aku telah berada di ruangan yang dipenuhi dengan lemari obat-obatan, akupun mulai bangun dari pingsanku. Aku tersentak kaget ketika aku melihat orang yang memukulku tadi dengan penuh senyum menjelaskan apa yang tadi terjadi padaku. Aku masih tak paham, dia tadi memukulku tapi sekarang tersenyum-senyum. “Woi, sebenarnya apa itu tingkatan D seperti yang kakak kelas OSPEK tadi katakan? Kau tahu tidak? Aku ingin membalasnya.”, ucapku dengan nada kesal. Aku memang penasaran mengenai apa yang dikatakan kakak kelas OSPEK tadi.
“Hmm, semangat sekali kau, oke aku akan cerita banyak untukmu. Tapi sayang sekali, sepertinya momen seperti ini tak akan menggairahkan untukmu mendengarnya. Dan jujur saja aku lapar. Kita berceritanya di kantin saja, oke?”, orang berperawakan gendut yang dengan sekali pukulan membuatku pingsan itu berkata tanpa beban. “Haha, anjiiing. Bilang saja kamu mau ditraktir.”, aku jawab dengan tanpa beban juga. Aku lalu mengangguk tanda mengiyakan menuruti keinginannya. Tak lama, aku sudah berada di meja makan kantin duduk berhadapan dengan orang gendut yang telah memukulku tadi. “Hei gendut, siapa namamu?”, tanyaku santai. “Berani sekali kau panggil gendut, mau kupukul lagi ya?”, jawabnya dengan nada tinggi walau sambil tersenyum. “Haha, bercanda. Ayo, ceritakan siapa dirimu!”, aku kembali menyeringai.
“Baik, aku Kawaishi. Sama sepertimu, aku juga baru masuk tahun ini. Aku sangat bersemangat masuk di sekolah ini. Aku membawa dendam...”, ucapnya sambil melihat dalam-dalam mataku. “Hei-hei, tunggu dulu, dendam apa maksudmu? Kenapa kau membawanya ke sekolah baru, dasar bodoh!”, ucapku memotong pembicaraannya.
Lalu, dua mangkok ramen dihidangkan penjual kantin di meja makan. Lalu setelah penjual itu pergi, si gendut itu kembali berbicara. “Dua tahun lalu, saat masih kelas 1 di sekolah ini, kakakku mengalami koma setelah dihajar komplotan gang tingkatan A. Kejadiannya dilakukan di luar sekolah, dan ketika kakakku bukan menjadi anggota gang apapun di sekolah ini. Semua itu bermula saat kakakku punya masalah dengan anak kelas 1 lainnya. Dan sialnya, anak itu adik dari anggota gang tingkatan A, gang teratas yang ada di sekolah setan ini. Kau masih beruntung tadi berhadapan dengan anggota gang D.”, ucapnya sambil diikuti menikmati ramennya. “Baik, sekarang jelaskan padaku soal gang- gang yang kau bicarakan tadi, aku yakin kau pasti tahu semuanya.”, tanyaku lantang.
“Di sekolah setan ini, ada 5 tingkatan gang, A sampai E. Tingkatan gang yang paling lemah adalah E, sebaliknya yang terkuat adalah A. Dan masing-masing gang memiliki jas kebesaran. Gang tingkatan E adalah gang yang terlemah dan diisi oleh anggota yang tidak solid. Tapi, empat gang lainnya, sangat terorganisir dan bahkan memiliki ketuanya masing-masing. Dari informasi temanku yang keluar dari sekolah ini karena tertindas di gang tingkatan C-nya, aku tahu jenis jas kebesaran masing-masing gang. Terkecuali gang tingkatan E, mereka tidak memilikinya.”, jelas si gendut diikuti menikmati ramen dengan nafsunya.
“Jadi begitu, kasihan sekali kakakmu kalau begitu ya. Sekarang, bagaimana keadaannya?”, tanyaku. “Kakakku sudah setahun lebih meninggal, di saat-saat terakhir waktu koma, dia sempat berkata untuk memintaku membalaskan dendamnya pada orang yang pernah punya masalah dengan kakakku dulu, yang sekarang menjadi anggota gang tingkatan A di sekolah ini.”, dia berkata lagi. “Baiklah, aku akan membantumu menuntaskan keinginan kakakmu, oke bro?”, kataku sambil berseringai. “Percaya diri sekali kau, apa kau yakin? Aku bahkan belum yakin dengan diriku.”, kata si gendut itu lagi. “Yakinlah padaku, kita nanti akan membuktikannya, mari bekerja sama.”, kataku sambil mengajaknya berjabat tangan. “Baik, sekarang kita satu tim.”, jawab Kawaishi sambil menjabat tanganku penuh yakin.
Dua hari setelah pertemuan pertama itu, aku dan si gendut sudah bergabung di gang tingkatan E . Aku bahkan sudah ditunjuk menjadi ketua gang terlemah di sekolah yang ternyata sekolah setan itu. Anggota gang tingkatan E mengakui keberanianku sewaktu OSPEK kemarin. Walau ada juga yang tidak menyetujuinya. Aku dan si gendut mencoba menyegarkan keberadaan gang tingkatan E. Kami meyakinkan anggota untuk nantinya menjadikan gang tingkatan E adalah gang terkuat di sekolah setan. Memang kami masih disepelekan, bahkan oleh anggota gang tingkatan E, tapi aku bersama si gendut akan memulai babak baru perjuangan hidupku.
To be continued. Baca chapter-chapter selanjutnya.
Baca Asshole SMU - Bagian 2
Baca Asshole SMU - Bagian 3

